Halaman

Selasa, 20 Agustus 2013

ASFIKSIA


A.    Definisi
·         Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (mansjoer, 2000)
·         Asfiksia adalah suatu keadaan hipoksia yang progresif, akumulasi CO2 dan asidosis (abdurahman ,2002)
·         Asfiksia adalah keadaan tidak bisa bernafas, berhentinya pernafasan (kamus keperawatan ed.17)
·         Asfiksia adalah (tanda denyut) hipoksia berat yang menyebabkan hipoksemia dan hiperkapnia, kehilangan kesadaran , dan bila tidak terkoreksi , kematian (kamus saku Mosby)
·         Jadi asfiksia neonatorum adalah kegagalan bernafas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan PaO2 di dalam darah rendah (hipoksemia), hiperkapnia (PaCO2 meningkat) dan asidosis.

B.     Anatomi Fisiologi Sistem Pernafasan
1.      Anatomi sistem pernafasan
Gambar : Anatomi Sistem Pernafasan
 
breathing_system8


a)      Rongga Hidung
Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam rongga hidung. Saluran-saluran itu bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum.
Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam rongga hidung. Septum nasi memisahkan kedua cavum nasi. Struktur ini tipis terdiri dari tulang dan tulang rawan, sering membengkok kesatu sisi atau sisi yang lain, dan dilapisi oleh kedua sisinya dengan membran mukosa. Dinding lateral cavum nasi dibentuk oleh sebagian maxilla, palatinus, dan os. Sphenoidale. Tulang lengkung yang halus dan melekat pada dinding lateral dan menonjol ke cavum nasi adalah : conchae superior, media, dan inferior.
Tulang-tulang ini dilapisi oleh membrane emukosa. Dasar cavum nasi dibentuk oleh os frontale dan os palatinus sedangkan atap cavum nasi adalah celah sempit yang dibentuk oleh os frontale dan os sphenoidale. Membrana mukosa olfaktorius, pada bagian atap dan bagian cavum nasi yang berdekatan, mengandung sel saraf khusus yang mendeteksi bau. Dari sel-sel ini serat saraf melewati lamina cribriformis os frontale dan kedalam bulbus olfaktorius nervus cranialis olfaktorius.Sinus paranasalis adalah ruang dalam tengkorak yang berhubungan melalui lubang kedalam cavum nasi, sinus ini dilapisi oleh membrana mukosa yang bersambungan dengan cavum nasi.
Lubang yang membuka kedalam cavum nasi :
1.            Lubang hidung
2.            Sinus Sphenoidalis, diatas concha superior
3.            Sinus ethmoidalis, oleh beberapa lubang diantara concha superior dan media dan diantara concha media dan inferior
4.            Sinus frontalis, diantara concha media dan superior
5.            Ductusnas olacrimalis, dibawah conchainferior.Pada bagian belakang, cavum nasi membuka kedalam nasofaring melalui appertura nasalis posterior.

pernapasan+2

b)      Faring
Faring adalah struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi 3 bagian, yaitu 7: nasofaring, orofaring, dan laringofaring. Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digesif
Nasofaring terletak di sebelah posterior hidung dan diatas palatum molle. Orofaring memuat fausial atau palatin, tonsil, Laringofaring memanjang dari tulang hioid ke kartilago krikoid

faring
Gambar : laring
c)      Laring atau Organ Suara
Laring adalah struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan trakea. Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi. Laring juga melindungi jalan nafas dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk (Smeltzer, S.C. and Bare, B.G, 2002).
d)     Trachea
Merupakan lanjutan ke arah caudal dari larynx. Panjang  kira-kira 10 cm, dibentuk oleh cincin tulang rawan (cartilago trachealis) sebanyak kurang lebih 20 buah. Bentuk cincin ini tidak menutup sama sekali, tetapi terbuka di bagian belakang, dimana bagian ini berbatasan dengan oesophagus. Trachea bersifat elastis dan bagian dorsalnya terdiri atas jaringan otot polos. Seperdua dari trachea berada di leher dan seperduanya lagi berada di dalam cavum thoracis; setinggi angulus sternalis dan bronchus dexter. Pada bagian ventral trachea melekat glandula thyroidea. Pada sisi lateral trachea dan oesophagus terdapat pembuluh-pembuluh darah besar yang menuju dan berasal dari daerah kepala. Di bagian ventral trachea pars cervicalis terdapat otot-otot infra hyoideus (melindungi trachea).

trakea


e)      Bronchus
Kedua bronchus tidak simetris, baik dalam bentuk maupun dalam ukuran; bronchus dextra mempunyai diameter yang lebih besar, bentuk yang lebih pendek dan arahnya lebih vertikal. Bentuk bronchus yang lebih besar ini disebabkan karena pulmo dexter bentuknya lebih besar daripada pulmo sinister, dan bentuk yang lebih pendek serta letaknya yang lebih vertikal disebabkan oleh karena desakan dari arcus Aortae terhadap trachea. Keadaan ini menyebabkan benda-benda asing yang masuk (tertelan) ke dalam trachea/bronchus lebih mudah masuk ke bagian kanan.
f)       Bronchiolus
Bronkiolus kemudian membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis, yang tidak mempunyai kelenjar lendir dan silia. Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori, yang dianggap menjadi saluran transisional antara jalan udara konduksi dan jalan udara pertukaran gas. Sampai pada titik ini, jalan udara konduksi mengandung sekitar 150 ml udara dalam percabangan trakeobronkial yang tidak ikut serta dalam pertukaran gas. Ini dikenal sebagai ruang rugi fisiologik. Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus alveolar kemudian alveoli, pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi dalam alveoli.
g)      Alveoli
Paru terbentuk oleh sekitar 300 juta alveoli, yang tersusun dalam kluster antara 15 sampai 20 alveoli. Begitu banyaknya alveoli ini sehingga jika mereka bersatu untuk membentuk satu lembar, akan menutupi area 70 meter persegi (seukuran lapangan tenis).
alveoli
Gambar : alveoli
2.      Fisiologi Saluran Pernafasan
Pernafasan mencakup 2 proses yaitu  :
1)      Pernafasan luar, yaitu proses penyerapan dan pengeluaran karbondioksida secara keseluruhan.
2)      Pernafasan dalam, yaitu proses pertukaran gas antara sel jaringan dengan cairan sekitarnya (penggunaan oksigen dalam sel).

Sirkulasi Pulmonal

Paru-paru mempunyai 2 sumber suplai darah, dari arteri bronkialis dan arteri pulmonalis. Darah di atrium kanan mengair keventrikel kanan melalui katup AV lainnya, yang disebut katup semilunaris (trikuspidalis). Darah keluar dari ventrikel kanan dan mengalir melewati katup keempat, katup pulmonalis, kedalam arteri pulmonais.

Arteri pulmonais bercabang-cabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang masing-masing mengalir keparu kanan dan kiri. Di paru arteri pulmonalis bercabang-cabang berkali-kali menjadi erteriol dan kemudian kapiler. Setiap kapiler memberi perfusi kepada saluan pernapasan, melalui sebuah alveolus, semua kapiler menyatu kembali untuk menjadi venula, dan venula menjadi vena. Vena-vena menyatu untuk membentuk venapulmonalis yang besar. Darah mengalir di dalam vena pulmonalis kembali keatrium kiri untuk menyelesaikan siklus aliran darah. Jantung, sirkulasi sistemik, dan sirkulasi paru.

Tekanan darah pulmoner sekitar 15 mmHg. Fungsi sirkulasi paru adalah karbondioksida dikeluarkan dari darah dan oksigen diserap, melalui siklus darah yang kontinyu mengelilingi sirkulasi sistemik dan par, maka suplai oksigen dan pengeluaran zat-zat sisa dapat berlangsung bagi semua sel.


C.     Etiologi
Penyebab kegagalan pernapasan pada bayi terdiri dari :
1.      Faktor ibu
a.       Hipoksia ibu
Dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anestesi dalam, dan kondisi ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya.
b.      Gangguan aliran darah uterus
Berkurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke plasenta dan juga ke janin, kondisi ini sering ditemukan pada gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi pada penyakit eklamsi dsb.


2.      Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta, asfiksis janin dapat terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya perdarahan plasenta, solusio plasenta dsb.
3.      Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan talipusat menumbung, melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan lahir dan janin, dll.
4.      Faktor neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal yaitu pemakaian obat anestesi yang berlebihan pada ibu, trauma yang terjadi saat persalinan misalnya perdarahan intra kranial, kelainan kongenital pada bayi misalnya hernia diafragmatika, atresia atau stenosis saluran pernapasan, hipoplasia paru, dsb.

D.    Klasifikasi
Asfiksia neonatorum diklasifikasikan sbb:
1.      Vigorous Baby
Skor APGAR 7-10, bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
2.      Mild Moderate asphyksia /asphyksia sedang
Skor APGAR 4-6, pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
3.      Asphyksia berat
Skor APGAR 0-3, pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 x permenit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada. Pada asphyksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang post partum,



E.     Patofisiologi
Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkankan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transien), proses ini dianggap sangat perlu untuk merangsang kemoreseptor pusat pernafasan agar terjadi “Primarg gasping” yang kemudian akan berlanjut dengan pernafasan. Bila terdapat gangguaan pertukaran gas/pengangkutan O2 selama kehamilan persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fugsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversibel/tidak tergantung kepada berat dan lamanya asfiksia. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode apnu (Primany apnea) disertai dengan penurunan frekuensi jantung selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnu kedua (Secondary apnea). Pada tingkat ini ditemukan bradikardi dan penurunan tekanan darah. Disamping adanya perubahan klinis, akan terjadi pula G3 metabolisme dan pemeriksaan keseimbangan asam basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama dan pertukaran gas mungkin hanya menimbulkan asidoris respiratorik, bila G3 berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi metabolisme anaerobik yang berupa glikolisis glikogen tubuh , sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan berkurang.asam organik terjadi akibat metabolisme ini akan menyebabkan tumbuhnya asidosis metabolik. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskuler yang disebabkan oleh beberapa keadaan diantaranya hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan termasuk otot jantung sehinga menimbulkan kelemahan jantung dan pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan akan tingginya resistensinya pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan kesistem tubuh lain akan mengalami gangguan. Asidosis dan gangguan kardiovaskuler yang terjadi dalam tubuh berakibat buruk terhadap sel otak. Kerusakan sel otak yang terjadi menimbuikan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.

F.    Manifestasi Klinis
1.      Hipoksia
Asfiksia biasanya merupakan akibat dari hipoksi janin yang menimbulkan tanda:
a.       DJJ lebih dari 1OOx/mnt/kurang dari lOOx/menit tidak teratur.
b.      Mekonium
c.       Apnea
d.      Pucat
e.       Sianosis
f.       Penurunan terhadap stimulus.
2.      RR> 60 x/mnt
3.      Napas megap-megap sampai dapat terjadi henti napas
4.      Bradikardia
5.      Tonus otot berkurang
6.      Warna kulit sianotik/pucat
7.      Pernafasan
Pernafasannya pendek-pendek tetapi cepat, susah bernafas dan akhirnya terhenti. Bahagian bibir, jari-jari, muka dan telinga menjadi kebiru-biruan.

G.    Penatalaksanaan Klinis
A :    Bersihkan jalan nafas : kepala bayi diletakkan lebih rendah agar lendir
         mudah mengalir, bila perlu digunakan laringoskopy untuk membantu          penghisapan lendir dari saluran nafas ayang lebih dalam. Berikan O2   dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal. Pasang     refleks pernafasan (hisap lendir, rangsang nyeri) selama 30-60 detik.          Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi         baru lahir yang bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup       bayi dan membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. Bila perlu             masukan ETT untuk memastikan pernapasan terbuka. Menghisap    mulut kemudian hidung k/p trachea. Bila perlu lakukan ventilasi      tekanan positif
B :    Rangsang reflek pernafasan : dilakukan setelah 20 detik bayi tidak
         memperlihatkan bernafas dengan cara memukul kedua telapak kaki             menekan tanda achiles. Dan tidak mampu mempertahankan suhu   tubuh. Dapat dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya            dengan O2
C :    Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan message jantung dengan
         ibu jari yang menekan pertengahan sternum 80 –100 x/menit.           Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada     atau bila perlu menggunakan obat-obatan
D :    Lakukan rangsangan taktil


I.       Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Asfiksia
A.    Pengkajian
A : Air Way
·         Kaji retraksi otot interkostal dan supra klavikular.
·         Kaji orofaring adanya benda asing penyebab obstruksi, khususnya pada obstruksi yang tidak disadari, lebih khusus pada pasien tidak sadar
·         Mengorok
B : Breathing
·         Periksa dada pasien
·         Dengarkan suara napas melalui hidung dan mulut.
·         Observasi, palpasi, dan dengarkan pergerakan pernapasan
·         Hitung frekuensi pernapasan
·         Pola napas
·         Pernafasan dangkal,tidak teratur,takipnea RR > 60
·         pernafasan cuping hidung, retraksi suplasternal/substernal

C : Cirkulation
·         Cek kualitas, frekuensi dan keteraturan nadi
·         Ukur tekanan darah
·         Kaji dan palpasi warna dan suhu kulit
·         Periksa distensi vena jugularis
·         Monitor jantung
·         Nadi optimal,mungkin cepat atau tidak teratur dalam batas normal(120 – 160 x/menit)
·         denyut jantung <100
·         Sianosis sebagai tanda hipoksia
·         pitting oedem pada tangan dan kaki


D : Disability
·         Cek kesadaran pasien dengan menggunakan  kualitatif kuantitatif
·         Periksa adanya kelelahan
·         tonus otot menurun

B.     APGAR score
skor
0
1
2
A:Appearance color (warna kulit)
pucat
Badan merah, ekstermitas biru
Seluruh tubuh kemerahan
P : Pulse
Tidak ada
Dibawah 100
Diatas 100
G: Grimace (reaksi terhadap rangsangan)
Tidak ada
Sedikit gerakan mimik
Menangis,batuk, bersin
A : Activity (tonus otot)
lumpuh
Ekstremitas dalam fleksi sedikit
Geerakan aktif

R : Respirastion (usaha nafas)
Tidak ada
Lemah, tidak teratur
Menangis kuat

C.     Pemeriksaan penunjang
a.       PaO2 <50mmhg>hipoksemia
b.      PaCO2 >55mmHg –>hiperkarbia
c.       pH <7,30>asidos
D.    Pemeriksaan diagnostic
a.       Analisa Gas darah
b.      Elektrolit darah
c.       Gula darah
d.      Baby gram (RO dada)
e.       USG (kepala)
E.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah :
a.       Gangguan pemenuhan oksigan b/d immaturitas organ pernafasan
F.      Intervensi
1.      DK : Gangguan pemenuhan oksigen b/d immaturitas organ pernafasan
Tujuan :
Dalam waktu singkat BBLR dapat menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang cukup baik dalam bernafas
Kriteria hasil :
·         Sianosis (-)
·         Suara nafas tidak ada(mengorok,ronkhi)

NO
INTERVENSI
RASIONAL
1.
Hisap pada daerah hidung dan orofaring dengan hati-hati sesuai kebutuhan
(5-10 detik)
Penghisapan dapat merangsang nesovagus menyebabkan bradikardia,hipoksemia atau bronkospasme.
2.
Tingkatkan istirahat,minimalkan rangsangan dan pengeluaran energy
Menurunkan laju metabolic dan konsumsi oksigen.
3.
Berikan terapi oksigen 2-3 liter/menit
Mempermudah pertukaran oksigen


G.    Evaluasi
1.      Kebutuhan oksigen terpenuhi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar