Halaman

Senin, 19 Agustus 2013

Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan pada hakekatnya ialah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan adanya pesan tersebut maka diharapkan masyarakat, kelompok, atau individu dapat memperoleh pengetahuan tersebut akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain, adanya promosi tersebut diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran.
            Promosi kesehatan juga merupakan suatu proses yang mempunyai masukan ( input ) dan keluaran ( output ). Suatu proses promosi kesehatan yang menuju tercapainya tujuan pendidikan yakni perubahan perilaku, dipengaruhi oleh banyak factor. Factor metode, factor materi atau pesannya, pendidikan atau petugas yang melakukannya, dan alat – alat bantu / alat peraga pedidikan yang dipakai. Agar mencapai suatu hasil yang optimal, maka factor – factor tersebut harus bekerja sama secara harmonis. Hal ini berarti bahwa untuk masukan ( sasaran pendidikan ) tertentu harus menggunakan cara tertentu pula. Materi  juga harus disesuaikan dengan sasaran kelompok maka metodenya harus berbeda dengan sasaran massa dan sasaran individual. Untuk sasaran massa pun harus berbeda dengan sasaran individual dan sebagainya. Dibawah ini diuraikan beberapa metode pendidikan individual, kelompok, dan massa ( public ).
1.      Metode pendidikan individual ( perorangan ) 
          Dalam promosi kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual digunakan untuk membina perilaku baru, atau membina seseoarang yang mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Misalnya membina seorang ibu yang baru saja menjadi akseptor atau seorang ibu hamil yang sedang tertarik terhadap imunisasi TT karena baru saja memperoleh/ mendengarkan penyuluhan kesehatan. Pendekatan yang digunakan agar ibu tersebut  menjadi aseptor lestari atau ibu hamil tersebut segera minta imunisasi, adalah dengan pendekatan secara perorangan. Perorangan disini tidak hanya berarti harus hanya kepada ibu – ibu yang bersangkutan, tetapi mungkin juga kepada suami atau keluarga ibu tersebut. 

      Dasar digunakannya pendekatan individual ini karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda – beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut. Agar petugas kesehatan mengetahui dengan tepat serta dapat membentuknya maka perlu menggunakan metode ( cara ). Bentuk pendekatan ini, antara lain :

a.      Metode Penyuluhan  
         Metode penyuluhan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai dengan pendekatan yang kita lakukan. Secara umum berdasarkan pendekatanya metode penyuluhan ini dapat dibedakan berdasarkan langsung tidaknya komunikasi yang dilakukan, berdasarkan pendekatan kepada sasaranya dan berdasarkan indera penerima.

Dilihat berdasarkan penyampaian komunikasinya.
Metoda penyuluhan dapat digolongkan kedalam 2 (dua) golongan yaitu :
1.   Metoda-metoda yang langsung (direct Communication/face to face Communication)
      Metode ini memberikan kesempatan kepada penyuluh untuk secara langsung berhadapan dengan sasaran.

2.   Metoda-metoda yang tidak langsung (indirect Communication)
       Dalam hal ini penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka dengan sasaran, tetapi dalam menyampaikan pesannya melalui perantara (media). Contoh : melalui radio, siaran televisi, ataupun media tercetak (brosur, leaflet).

       Dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih intensif. Setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat teliti dan dibantu penyelesainnya. Akhirnya klien tersebut dengan sukarela, berdasarkan kesadaran, dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut ( mengubah perilaku ).

b. Metode Wawancara
    Pengertian Wawancara yaitu Proses penggalian informasi melalui tanya jawab antara pewawancara (interviewer) dengan narasumber (interviewee). Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, apakah ia tertarik atau tidak terhadap perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apabila belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.

      Jenis dan Sifat Data: Data yang diperoleh melalui wawancara tergolong data primer (diperoleh dari sumber pertama), Dan sifat data yang diperoleh melalui wawancara bersifat kualitatif dan cenderung subyektif.

Menurut cara pelaksanaan:
·  Wawancara tatap muka atau langsung
·  Wawancara melalui telepon
·  Wawancara melalui surat/email
·  Wawancara tertulis
Kualifikasi Pewawancara:

·  Menguasai permasalahan

·  Memiliki kemampuan berhubungan dengan orang lain (human relation)

·  Memiliki kemampuan berempati

·  Memiliki ketrampilan berkomunikasi lisan, termasuk body languade

·  Memiliki kemampuan untuk bersikap friendly

·  Memiliki kemampuan untuk mendengar

·  Mampu bersikap rendah hati

·  Mampu mengendalikan diri

 2. Metode Pendidikan Kelompok
     Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus diingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran. Untuk kelompok yang besar,metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektivitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.
a.  Kelompok besar
     Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini, antara lain ceramah dan seminar.

1. Metode Ceramah
    Metode ini baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah.
    a. Persiapan
        Ceramah akan berhasil apa bila penceramah menguasai materi yang akan diceramahkan. Untuk itu penceramah harus mempersiapkan diri dengan

1) Mempelajari materi dengan sistematika yang baik. Lebih baik lagi kalau disusun dalam diagram atau skema.

2) Mempersiapkan alat – alat bantu pengajaran, misalnya makalah singkat, slide, transparan, sound system, dan sebagainya.

b. Pelaksanaan
    Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah adalah apabila penceramahan tersebut dapat menguasai sasaran ceramah. Untuk itu penceramahan dapat melakukan hal – hal sebagai berikut.

1. Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu – ragu dan gelisah.
2. Suara hendaknya cukup keras dan jelas.
3. Pandangan harus tertuju ke seluruh peserta ceramah.
4. Berdiri di depan ( dipertengahan ). Tidak boleh duduk
5. Menggunakan alat – alat bantu lihat ( AVA ) semaksimal mungkin.

  2. Metode Seminar
    Seminar adalah suatu kegiatan belajar mengajar yg melibatkan sekelompok orang yg mempunyai pengalaman & pengetahuan yg mendalam, atau dianggap mempunyai pengalaman & pengetahuan mendalam tentang suatu hal, & membahas hal tersebut bersama-sama dengan tujuan agar setiap peserta dapat saling belajar dan berbagi pengalaman dengan rekannya.

    Metode ini hanya cocok untuk sasaran kelompok besar dengan pendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu penyajian (presentasi) dari satu ahli atau beberapa ahli tentang dianggap hangat di masyarakat.

a.    Kegunaan :

·         Membagi pengalaman/pengetahuan kepada orang lain

·         Materi adalah sesuatu yg baru

b.    Keuntungan :

·         Bagi peserta, memperkaya pengetahuan, wawasan

·         Peserta boleh berpendapat

·         Menumbuhkan perilaku positif

c.     Kelemahan :

·         Peserta harus berpengetahuan yg memadai mengenai topic

·          Sulit dilakukan untuk pendidikan peserta menengah kebawah

b.   Kelompok Kecil
      Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang biasanya kita sebut kelompok kecil. Metode – metode yang cocok untuk kelompok kecil antara lain :

1. Diskusi Kelompok
   Agar semua anggota kelompok dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat berhadp – hadapan atau saling memandang satu sama lain, misalnya dalam bentuk lingkaran atau segi empat. Pemimpin diskusi juga duduk di antara peserta sehingga tidak menimbulkan kesan ada yang lebih tinggi. Dengan kata lain mereka harus merasa berada dalam taraf yang sama, sehingga tiap anggota kelompok mempunyai kebebasan/keterbukaan untuk mengeluarkan pendapat.

2. Curah Pendapat ( Brain storming )
    Metode ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya pada permulaannya pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban – jawaban atau tanggapan ( curah pendapat ). Tanggapan atau jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam papan tulis.

3. Kelompok – kelompok kecil ( Buzz Group )
    Kelompok langsung dibagi menjadi kelompok – kelompok kecil ( buzz group ) yang kemudian diberi suatu permasalahan yang sama atau tidak sama dengan kelompok lain. Masing – masing kelompok mendiskusikan masalah tersebut. Selanjutnya hasil dari tiap kelompok diskusikan kembali dan dicari kesimpulannya.

4. Memainkan Peran ( Role Play )
    Dalam metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peran tertentu untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter puskesmas, sebagai perawat atau bidan. Sedangkan anggota yang lainnya sebagai pasien atau anggota masyarakat.

3. Metode Pendidikan Massa
    Metode pendidikan ( pendekatan ) massa cocok untuk mengomunikasikan pesan – pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat. Oleh karena sasaran pendidikan ini bersifat umum, dalam arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin, pekerjaan, status social ekonomi, tingkat pendidikan, dan sebagainya, maka pesan – pesan kesehatan yang akan disampaikan harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar