Halaman

Minggu, 18 Agustus 2013

Ruam Popok atau Diaper Rash




      Ruam popok atau diaper rash adalah Inflamasi akut pada kulit yang disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh pemakaian popok. (wong, 1993:1044)
     Ruam popok atau diper rash merupakan dermatitis kontak iritan karena bahan kimia yang terkandung dalam urine dan feses. (agus haryanto, 1998)
     Ruam popok atau diaper rash adalah akibat akhir karena kontak yang terus menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik, sehingga menyebabkan iritasi atau dermatitis pada daerah perianal. (depkes RI, 1994)
  
1. Etiologi 
     a) Kontak yang terlalu lama antara kulit dengan urin/kotoran bayi di dalam popok yang telah kotor.
   b) Popok yang menjadi lembap karena bayi berulang kali membuat urin atau feses. Jika bakteri yang terdapat pada feses bercampur dengan urin, maka kandungan kimia yang terdapat dalam urin akan membentuk amonia, yang bereaksi mengiritasi kulit bayi. 
2. Manifestasi Klinis 
    Gejalanya antara lain ruam kemerahan atau lecet pada kulit di daerah yang ditutupi popok. Selain itu, bayi biasanya terlihat rewel, terutama saat penggantian popok. Bayi juga mungkin menangis saat kulit di daerah yang ditutupi popok dicuci atau disentuh.
Terdapat bercak-bercak kemerahan pada daerah pantat karena iritasi popok.
 


3. Penatalaksanaan 
   · Bersihkan segera bagian yang tertutup popok setiap kali bayi kencing / mengeluarkan kotoran dengan air sabun. 
   · Bilas dan keringkan. 
   · Disarankan untuk sering mengganti popok bayi 
   · Oleskan krem pelindung secukupnya. 
  · Buka popok bayi sesering mungkin sampai kulit sembuh sekitar satu minggu. Paparan udara langsung akan membantu mengeringkan dan menyembuhkan kulit
   · Periksa dokter bila gatal menetap sampai lebih dari 10 hari, tambah berat atau timbul lecet-lecet. 
   · Memilih bahan pakaian yang lembut. 
  · Pada bayi perempuan, saat membersihkan bagian bokongnya harus dari bagian atas ke arah anus, dengan menggunakan kapas basah. 
   · Pada bayi laki-laki, dengan menarik kulup perlahan-lahan sehingga lubang kencingnya tampak, baru kemudian dibersihkan dengan kapas basah. 
    · Pengobatan utama dapat dilakukan dengan mengoleskan pasta zinc oxide, petrolatum, dan preparat pelindung lunak lain. Selain itu, dapat dioleskan minyak herbal seperti campuran sandalwood, pepermint dan lavender. Bila perlu, pengolesan diulang setiap kali mengganti popok. 
    · Untuk membersihkan dan pengobatan kandida, lakukan secara lembut dengan menggunakan air, minyak mineral atau cleanser lembut yang tidak mengandung parfum. 
    · Saat melakukan pembersihan diusahakan untuk menghindari penggosokan atau penggesekan. 
   ·  Sering-seringlah mengganti popok. Jangan biarkan popok yang sudah basah karena menampung banyak urin berlama-lama dipakai bayi. Kontak yang lama antara urin atau tinja dengan kulit bayi dapat menimbulkan ruam popok. 
   · Saat membersihkan bayi, tepuk daerah yang biasa ditutupi popok (bokong, paha, selangkangan, dan daerah genital bayi) secara perlahan dengan handuk bersih. Usahakan menghindari menggosok-gosok dengan keras daerah tersebut. 
    · Sesekali biarkan bokong bayi terbuka (tidak memasang popok) selama beberapa saat. Tindakan ini mungkin berguna menjaga daerah popok tetap kering dan bersih. 
    · Hati-hati dalam memilih popok, karena beberapa jenis bahan popok dapat merangsang ruam popok. Jika hal itu terjadi, gantilah popok merk lain yang lebih cocok. 
    · Jika bayi anda memakai popok kain yang digunakan berulang kali, cucilah popok kain tersebut dengan deterjen yang formulanya tidak terlalu keras. Hindari memakai pelembut, karena pewangi dalam pelembut tersebut dapat mengiritasi kulit bayi. Pastikan untuk membilas popok dengan baik agar deterjen tidak tertinggal di dalam popok. 
     · Hindari memasang popok terlalu kuat. Usahakan ada ruang antara popok dengan kulit bayi 

4.    Asuhan Keperawatan
       a.   Pengkajian
Ø Umur. Ruam popok umumnya terjadi pada anak yang kurang dua tahun. Setelah berumur dua tahun ke atas, anak jarang mengalami hal ini. Insiden terbanyak terjadi pada anak yang berusia 9-12 bulan.
Ø Pola kebersihan cenderung kurang, terutama pada daerah  perianal, bokong, dan perut bagian bawah. Apabila selesai BAB(Buang Air Besar) / BAK(Buang Air Kecil), daerah pantat tidak dibersihkan dengan air sebelum di ganti dengan popok yang bersih. Selain itu popok basah karena terkena urine / feses yang tidak segera di ganti, bahkan sampai kering kembali akan mempermudah ruam popok
Ø Bayi sering menggunakan popok plastik yang kedap air dan disposible, yang terbuat dari bahan sintetis dalam waktu yang lama
Ø Perlu di kaji bagaimana cara ibu mencuci pakaian dan popok. Apabila menggunakan popok disposible (mis: pampers), harus diganti setiap beberapa jam. Pencucian yang tidak bersih dapat menyebabkan terjadinya ruam popok karena deterjen tertinggal pada pakaian.
Ø Pada pemeriksaan bagian bokong terdapat bintik- bintik kemerahan yang kadang- kadang berisi nanah. Demikian juga daerah bawah perut.
Ø Anamnesa faktor alergi. Kemungkinan anak sensitif terhadap deterjen atau sabun  cuci yang digunakan atau anak alergi pada popok disposible. 

b. Diagnosa Keperawatan
1) Imobilitas b/d adanya luka
2) Resiko infeksi b/d adanya luka
3) Aktual infeksi, sepsis b/d adanya infeksi 

c. Intervensi
1)  Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit / jaringan
       Tujuan:
          Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan nyeri    
        Dapat teratasi
       K
riteria Hasil:
   -Nyeri berkurang / terkontrol
   -Ekspresi wajah rileks.
       Intervensi:
-Pastikan ibu mengganti popoknya secara rutin.
R/ supaya permukaan tidak dalam keadaan lembab/ basah.
-Berikan tempat tidur ayunan secara indikasi
R/ peninggian linen dari luka membantu menurunkan nyeri
-Membasuh pantat bayi dan mengeringkanya
R/ Untuk mencegah terjadinya iritasi pada kulit bayi
-Melepas ppopok dan membiarkan kulitnya terkena angin
R/ Mempercepat penyembuhan ruam popok
2)   Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit karena  
destruksi jaringan.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan masalah dapat teratasi.
KH:
-Menunjukan regenerasi jaringan
-Mencapai penyembuhan tepat waktu.
Intervensi:
-Berikan perawatan ruam popok dengan tepat dan tindakan control infeksi.
R/ menyiapkan jaringan baru dan menurunkan infeksi.
-Tinggikan area graft bila mungkin
R/ menurunkan pembengkakan / mengatasiresiko pemisahan graft
-Pantau kondisi luka yang terjadi akibat ruam popok.
R/ memberikan informasi dasar tentang keb penanaman kulit
-Cuci sisi dengan sabun ringan, cuci dan minyai dengan krim.
R/ kulit graft baru dan sisi donor yang sembuh memerlukan perawatan khusus
3)   Gangguan mobilitas fisik, kerusakan
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan kep selama 2x24 jam diharapkan masalah dapat teratasi.
KH:
-Menunjukan keinginan berpartisipasi dalam aktifitas.
-Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tidak adanya kontraktus.
-Menunjukan teknik / perilaku yang memampukan melakukan aktivitas.
 Intervensi:
-Pertahankan posisi tubuh tepat dan dukungan
R/ meningkatkan fungsional pada ekstremitas
-Lakukan rehabilitasi pada penerima.
R/ akan lebih mudah membuat partisipasi
-Berikan obat sebelum aktivitas/ latihan
R/ menurunkan kekuatan otot/ jaringan.
-Bersihkan daerah luka dengan cepat.
R/ eksisi dinidiket untuk menurunkan jaringan parut serta resiko infeksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar